HIU-HIU KECIL
Oleh : Agum RA
Adakalanya dalam berorganisasi, kita
ingin agar segalanya berjalan efektif, dimana
peristiwa 28 Januari 1986, pesawat yang berawak tujuh orang tersebut
lepas landas dari Kennedy Space Center
di Florida, yang pada akhirnya kurang dari dua menit ledakan pun terjadi
diakibatkan ketika sehari sebelum peluncuran kelompok insinyur Morton Thiokol
sudah memperingatkan bahwa peluncuran akan sangat beresiko karena rendahnya
suhu pembekuan yang karena rekomendasi yang bersifat searah tersebut
mengakibatkan NASA membuat kesalahan besar dengan tidak mengindahkan peringatan
tersebut.
Peristiwa tersebut memberi kita
pelajaran bahwa memburu efektifitas tidak selalu berdampak bagi baik
kelangsungan organisasi. Salah sati ciri groupthink adalah hilangnya
kekritisan individu-individu dalam organisasi ketika menemukan adanya masalah.
Irving Janis, seorang psikolog sosial dari Yale memperingatkan bahwa hilangnya
kekritisan individu ini akan sangat berbahaya. Ketika ada suatu kasus yang
dimana ketika pihak yang mengetahui ada masalah tidak lagi kritis yang terjadi
adalah pengambilan keputusan yang berakibat fatal.
Memang, koknflik dan kritik bukanlah
sesuatu yang menyenangkan. Namun, justru itulah yang ,menjaga kita vuntuk tetap
pada jalur yang benar. Ketiuka kita terus berda di zona nyaman, tanmpa konflik
dan tanpa kritik, maka tidak ada pembelajaran hidup yang dapat kita ambil. Ada
suatu kisah menarik dari Jepang yang akan menyadarkan kita.
Suatu hari seorang nelayan mencari
ikan di laut menggunakan kapal. Setiap kali si nelayan mendapatkan ikan, ia
selalu memasukkan ikannya di kolam kapal dengan harapan ikan tersebut tetap
hidup. Setelah mendapatkan banyak tangkapan, si nelayan pun pulang. Sesampainya
di pantai, ia terkejut karena ikan-ikannya banyak yang lemas dan mati. Harga
jualnya pun menurun.
Si nelayan pun memutar otak mencari agar ikan-ikan
tangkapanya tetap hidup. Beragam cara yang ia pakai tidak berhasil. Hingga
suatu hari si nelayan mendapatkan ide untuk memasukkan hiu-hiu kecil ke dalam
kolam kapalnya. Setiap kali mendapatkan ikan, hasil tangkapannya itu dimasukkan
ke molam yang berisi hiu kecil. Ikan yangkapan itupun senantiasa berenang untuk
menghindari terkaman hiu. Denagn cara itu, ikan-ikan tangkapannya tetap segar
sampai pantai, dan harga jualnya pun tinggi.
Fenomena “ikan lemas” tersebut kita
ibaratkan sebagai kondisi organisasi yang pergerakannya lesu dan stagnan.
Organisasi yang selama masa kepengurusannya tidak membvuat suatu perubahan
apapun. Menggunakan analogi diatas, mungkin hal itu disebabkan karena tidak
adanya “hiu-hiu kecil” yang memacu organisasi ini untuk terus bergerak dan
berbenah. Untuk itu, harus ada konflik yang memacu dinamika organisasi sehingga
organisasi tersebut bergerak.
Salah satu cara untuk membvuat suatu
organisasi dinamis adalah menaruh orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda
di lingkaran pengambil kebijakan organisasi. Hal itu meminimalkan peluang
penyimpangan yang dapat dilakukan oleh para pimpinannya. Selain itu, selain ada
indikasi organisasi tidak berjalan, ada pihak-pihak internal yang bisa membuat
konflik sehingga roda organisasi berjalan kembali.
Oleh karena itu, tidak selalu konflik
itu bersifat negatif. Itu bagaiamana subjek menanggapi tentang dinamika tersebut,
dimana bukan hiu kecil itu yang menjadi masalah, namun bagaiamana manajemen
konflik itu di konversi menjadi sebuah power yang akan menjadi pembangkit untuk
arah perubahan yang lebih baik lagi.
Terinpirasi dari buku Gading EA, (2015: 70-71) “Menjaga
Nafas Gerakan”-SAGA-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar