Jumat, 02 Februari 2018

HIU-HIU KECIL
Oleh : Agum RA

Adakalanya dalam berorganisasi, kita ingin agar segalanya berjalan efektif, dimana  peristiwa 28 Januari 1986, pesawat yang berawak tujuh orang tersebut lepas landas dari  Kennedy Space Center di Florida, yang pada akhirnya kurang dari dua menit ledakan pun terjadi diakibatkan ketika sehari sebelum peluncuran kelompok insinyur Morton Thiokol sudah memperingatkan bahwa peluncuran akan sangat beresiko karena rendahnya suhu pembekuan yang karena rekomendasi yang bersifat searah tersebut mengakibatkan NASA membuat kesalahan besar dengan tidak mengindahkan peringatan tersebut.
Peristiwa tersebut memberi kita pelajaran bahwa memburu efektifitas tidak selalu berdampak bagi baik kelangsungan organisasi. Salah sati ciri groupthink adalah hilangnya kekritisan individu-individu dalam organisasi ketika menemukan adanya masalah. Irving Janis, seorang psikolog sosial dari Yale memperingatkan bahwa hilangnya kekritisan individu ini akan sangat berbahaya. Ketika ada suatu kasus yang dimana ketika pihak yang mengetahui ada masalah tidak lagi kritis yang terjadi adalah pengambilan keputusan yang berakibat fatal.
Memang, koknflik dan kritik bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Namun, justru itulah yang ,menjaga kita vuntuk tetap pada jalur yang benar. Ketiuka kita terus berda di zona nyaman, tanmpa konflik dan tanpa kritik, maka tidak ada pembelajaran hidup yang dapat kita ambil. Ada suatu kisah menarik dari Jepang yang akan menyadarkan kita.
Suatu hari seorang nelayan mencari ikan di laut menggunakan kapal. Setiap kali si nelayan mendapatkan ikan, ia selalu memasukkan ikannya di kolam kapal dengan harapan ikan tersebut tetap hidup. Setelah mendapatkan banyak tangkapan, si nelayan pun pulang. Sesampainya di pantai, ia terkejut karena ikan-ikannya banyak yang lemas dan mati. Harga jualnya pun menurun.
Si nelayan pun  memutar otak mencari agar ikan-ikan tangkapanya tetap hidup. Beragam cara yang ia pakai tidak berhasil. Hingga suatu hari si nelayan mendapatkan ide untuk memasukkan hiu-hiu kecil ke dalam kolam kapalnya. Setiap kali mendapatkan ikan, hasil tangkapannya itu dimasukkan ke molam yang berisi hiu kecil. Ikan yangkapan itupun senantiasa berenang untuk menghindari terkaman hiu. Denagn cara itu, ikan-ikan tangkapannya tetap segar sampai pantai, dan harga jualnya pun tinggi.
Fenomena “ikan lemas” tersebut kita ibaratkan sebagai kondisi organisasi yang pergerakannya lesu dan stagnan. Organisasi yang selama masa kepengurusannya tidak membvuat suatu perubahan apapun. Menggunakan analogi diatas, mungkin hal itu disebabkan karena tidak adanya “hiu-hiu kecil” yang memacu organisasi ini untuk terus bergerak dan berbenah. Untuk itu, harus ada konflik yang memacu dinamika organisasi sehingga organisasi tersebut bergerak.
Salah satu cara untuk membvuat suatu organisasi dinamis adalah menaruh orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda di lingkaran pengambil kebijakan organisasi. Hal itu meminimalkan peluang penyimpangan yang dapat dilakukan oleh para pimpinannya. Selain itu, selain ada indikasi organisasi tidak berjalan, ada pihak-pihak internal yang bisa membuat konflik sehingga roda organisasi berjalan kembali.
Oleh karena itu, tidak selalu konflik itu bersifat negatif. Itu bagaiamana subjek menanggapi tentang dinamika tersebut, dimana bukan hiu kecil itu yang menjadi masalah, namun bagaiamana manajemen konflik itu di konversi menjadi sebuah power yang akan menjadi pembangkit untuk arah perubahan yang lebih baik lagi.


Terinpirasi dari buku Gading EA, (2015: 70-71) “Menjaga Nafas Gerakan”-SAGA-     

Dipaksa Merasa

Dipaksa Merasa Seorang manusia sedang menyelaraskan hati dengan fikirannya. Ada sesuatu yang sangat ia inginkan, namun sayang hati d...