PEMIKIRAN SAID
NURSI
Dalam
pemikirannya untuk membuktikan keberadaan dan keesaan Ilahi, hari kebangkitan,
kenabian, asal Ilahiah, al-Quran, alam gaib, dan para penghuninya atau
dimensi-dimensi immaterial, perlunya ibadah, moralitas, karakter ontologis manusia
dan lain-lain, Said Nursi semula mencoba mem-erkuat Islam dengan filsafat
modern barat. Kemudian dia melihat bahwa cara tersebut sama halnya dengan
merendahkan Islam dan bahwa pokok-pokok islami terlalu dalam untuk dijangkau
dengan prinsip-prinsip filsafat manusia. Dia lalu beralih kepada alquran saja.
Namun pada gilirannya, setelah mencermati ber-bagai ayat al-Quran, justru Said
Nursi berpendapat bahwa filsafat adalah jalur menuju kemajuan dan pencerahan
ruhani. Bahkan sempat perpendapat bahwa pola pikir filsafat Barat bisa
digunakan untuk menegakkan dan memperkuat kebenaran Islam. Dari sini, maka
dipahami pemikiran Said Nursi yang secara lahiriyah terlihat tetap menggunakan
filsafat Barat, justeru di sisi lain dengan pe-mikirannya itu dapat mengkorelasikannya
filsafat Islam. Ini berarti bahwa Said Nursi satu-satu pemikir modern yang
telah menemukan konsep baru filsafat dalam bingkai yang islami.
PEMIKIRAN SAID
NURSI TENTANG KETUHANAN
Yang pertama
adalah “aku bukan pemilik diriku “ pemilik diriku adalah sang pemilik kerajaan,
zat yang mahaagung dan mulia. Kubayangkan diriku sebagai pemilik untuk memahami
sifat-sifat pemilikku lewat antologi. Maka dengan sesuatu yang akhirnya, pagi
datang dan lentera hayalan itupun padam.
Kedua adalah
“kematian adalah sesuatu yang haq (nyata)” kehidupan dan tubuh ini tidak bisa
menjadi pilar kehidupan yang agung. Pasalnya, keduanya tidak abadi; juga tidak
berasal dari besi dan batu. Namun ia berasal dari daging, darah, dan tulang
serta berbagai unsur yang saling berlawanan yang beberapa saat bisa sejalan
namun kemudian berpisah. Bagaimana istana seluas dunia dibangun di atas pondasi
yang rapuh dan pilar yang cepat membusuk.
Ketiga adalah
“tuhanku mahaesa”. Puncak kebahagiaan setiap orang adalah ketika berserah diri
kepada tuhan yang maha esa. Jika tidak, tentu ia membutuhkan banyak tuhan yang
saling besebrangan. Pasalnya, totalitas manusia memiliki berbagai kebutuhan
terhadap banyak hal, sejumlah hubungan dengannya derita, kasan, kesadaran dan
ketidak sadaran terhadapnya. Ini semua merupakan kondisi yang sangat menyiksa.
Maka dari itu mengtahui tuhan yang maha esa di mana sejumlah tuhan imajiner ini
hanyalah hijab halus yang membungkus kekuasaannya merupakan sorga duniawi.
Keempat adalah
“ego” yang merupakan titik hitam yang kepalanya dibungkus dengan goresan kreasi
tuhan. Padanya tampak bahwa sang pencipta lebih dekat daripada dirinya
sendiri.
REFERENSI