Selasa, 19 Desember 2017

PEMIKIRAN SAID NURSI

PEMIKIRAN SAID NURSI
Dalam pemikirannya untuk membuktikan keberadaan dan keesaan Ilahi, hari kebangkitan, kenabian, asal Ilahiah, al-Quran, alam gaib, dan para penghuninya atau dimensi-dimensi immaterial, perlunya ibadah, moralitas, karakter ontologis manusia dan lain-lain, Said Nursi semula mencoba mem-erkuat Islam dengan filsafat modern barat. Kemudian dia melihat bahwa cara tersebut sama halnya dengan merendahkan Islam dan bahwa pokok-pokok islami terlalu dalam untuk dijangkau dengan prinsip-prinsip filsafat manusia. Dia lalu beralih kepada alquran saja. Namun pada gilirannya, setelah mencermati ber-bagai ayat al-Quran, justru Said Nursi berpendapat bahwa filsafat adalah jalur menuju kemajuan dan pencerahan ruhani. Bahkan sempat perpendapat bahwa pola pikir filsafat Barat bisa digunakan untuk menegakkan dan memperkuat kebenaran Islam. Dari sini, maka dipahami pemikiran Said Nursi yang secara lahiriyah terlihat tetap menggunakan filsafat Barat, justeru di sisi lain dengan pe-mikirannya itu dapat mengkorelasikannya filsafat Islam. Ini berarti bahwa Said Nursi satu-satu pemikir modern yang telah menemukan konsep baru filsafat dalam bingkai yang islami.

PEMIKIRAN SAID NURSI TENTANG KETUHANAN
Yang pertama adalah “aku bukan pemilik diriku “ pemilik diriku adalah sang pemilik kerajaan, zat yang mahaagung dan mulia. Kubayangkan diriku sebagai pemilik untuk memahami sifat-sifat pemilikku lewat antologi. Maka dengan sesuatu yang akhirnya, pagi datang dan lentera hayalan itupun padam.
Kedua adalah “kematian adalah sesuatu yang haq (nyata)” kehidupan dan tubuh ini tidak bisa menjadi pilar kehidupan yang agung. Pasalnya, keduanya tidak abadi; juga tidak berasal dari besi dan batu. Namun ia berasal dari daging, darah, dan tulang serta berbagai unsur yang saling berlawanan yang beberapa saat bisa sejalan namun kemudian berpisah. Bagaimana istana seluas dunia dibangun di atas pondasi yang rapuh dan pilar yang cepat membusuk.
Ketiga adalah “tuhanku mahaesa”. Puncak kebahagiaan setiap orang adalah ketika berserah diri kepada tuhan yang maha esa. Jika tidak, tentu ia membutuhkan banyak tuhan yang saling besebrangan. Pasalnya, totalitas manusia memiliki berbagai kebutuhan terhadap banyak hal, sejumlah hubungan dengannya derita, kasan, kesadaran dan ketidak sadaran terhadapnya. Ini semua merupakan kondisi yang sangat menyiksa. Maka dari itu mengtahui tuhan yang maha esa di mana sejumlah tuhan imajiner ini hanyalah hijab halus yang membungkus kekuasaannya merupakan sorga duniawi.
Keempat adalah “ego” yang merupakan titik hitam yang kepalanya dibungkus dengan goresan kreasi tuhan. Padanya tampak bahwa sang pencipta lebih dekat daripada dirinya sendiri. 

REFERENSI


Dipaksa Merasa

Dipaksa Merasa Seorang manusia sedang menyelaraskan hati dengan fikirannya. Ada sesuatu yang sangat ia inginkan, namun sayang hati d...